![]()
Berau, Kaltim — Misteri dana Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Kampung Balikukup kini memicu keresahan warga. Dari catatan iuran yang semestinya terkumpul hingga Rp133 juta lebih, kini hanya tersisa sekitar Rp37 juta. Selisih puluhan juta rupiah itu menimbulkan tanda tanya besar: ke mana larinya dana tersebut?
Warga menegaskan, selama ini tidak pernah ada laporan keuangan yang dipaparkan secara terbuka. Padahal, setiap rumah tangga rutin membayar iuran Rp30 ribu per bulan untuk menopang operasional PLTS. Atas dasar itu, mereka mendesak Kepala Kampung Balikukup, Lahumadi, selaku penanggung jawab, agar segera membuka seluruh data keuangan melalui pertemuan resmi di balai desa.
“PLTS ini aset kampung, bukan milik pribadi. Jadi uangnya harus jelas ke mana. Kami minta laporan terbuka, jangan sampai ada permainan,” ujar salah satu warga dengan nada kecewa.
Selain persoalan dana, warga juga menyoal pola komunikasi dalam grup WhatsApp PLTS yang dinilai diskriminatif. Grup itu disebut hanya dijadikan sarana satu arah tanpa memberi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan kritik maupun usulan.
“Kalau buat grup WhatsApp tapi hanya admin yang bisa bicara, untuk apa? Masyarakat berhak bersuara, jangan dibungkam,” keluh warga lainnya.
Desakan transparansi ini kini menjadi ujian serius bagi kepemimpinan kampung. Warga menegaskan, tanpa keterbukaan, kecurigaan akan semakin menguat terkait dugaan penyalahgunaan dana dalam pengelolaan PLTS.
Mereka menuntut Kepala Kampung segera memberikan klarifikasi demi menjaga kepercayaan publik serta memastikan PLTS benar-benar menjadi manfaat bersama, bukan ladang kepentingan segelintir pihak.*
Wartawan Fendy
Editor Soni ,Sh
